COWOK KAYU : Kulit Sekeras Kayu, Tohari Menderita Skleroderma


http://i.okezone.com/content/2011/06/28/340/473676/CYx2gsjPdE.jpg

SURABAYA- Penyakit kulit mengeras seperti yang diderita oleh Tohari (34) warga Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, merupakan penyakit langka.

Hans Lumintang, dokter spesialis kulit dermatology RSU dr Soetomo, mengatakan kemungkinan Tohari menderita skleroderma atau sklerodermin.

Menurutnya, jaringan kulit manusia ada tiga lapis. Sementara yang terkena penyakit itu adalah jaringan kulit sklerosis.

"Penyakit ini telah terjadi proses klerosis, yakni kulitnya akan menjadi keras kadang-kadang bergumpal-gumpal," jelasnya kepada wartawan ketika ditemui di kantornya, Selasa (28/6/2011).

Dia menjelaskan, sklerodermin terdapat dua macam, yakni sklerodermin sistemik dan lokal. Sedangkan kasus yang menimpa Tohari kemungkinan berjenis lokal.

Jika tidak segera dilakukan penanganan medis, maka proses pengerasan ini akan melebar dan meluas.

"Yang paling ditakuti adalah ketika berlanjut ke sistemik. Sebab, bisa menjalar ke organ-organ tubuh yang lain seperti pembuluh darah, ginjal, otot bahkan ke organ pencernaan," jelasnya.

Namun untuk memastikan penyakit tersebut, Tohari harus dibawa ke Laboratorium Ispatopologi untuk didiagnosa dengan cara diambil jaringan kulit.




Lebih jauh dia menjelaskan, penyebab penyakit ini bisa jadi karena autoimun. Yakni, ada bahan-bahan di dalam tubuh yang menyebabkan timbul reaksi imunologi sehingga memicu skleloderma. Bisa jadi karena ada trauma berulang-ulang yang menyebabkan peradangan kronis.

"Ada juga yang mengatakan faktor genetik atau keturunan, sehingga harus dicari tahu," katanya.

Upaya medis yang dilakukan untuk penyakit tersebut adalah dengan memberikan obat-obat yang biasa disebut dengan antisiklorosis. Jika pengobatan itu tidak berhasil, maka upaya selanjutnya adalah operasi bedah saraf.

"Untuk menghilangkan ketegangan itu, saraf simpatisnya atau simpatektomi harus dipotong. Jika sudah demikian bagian-bagian itu tidak mengeras lagi," tukasnya.
(kem)




Tohari (kiri) menunjukkan kulitnya yang mengeras seperti kayu.

Dilihat dari penampilan fisiknya, tak ada yang salah dengan Tohari. Pria 34 tahun ini sekilas sama dengan orang lain. Namun, cobalah cubit lengannya, akan terasa keras seperti kulit kayu.

Tingkat kekerasan kulit Tohari berbeda dengan orang normal. Kulit lengannya sangat kaku, sehingga tidak ada yang bisa mencubitnya. Memukul bahu atau punggungnya seperti memukul benda keras, seolah ada pelindung keras di balik kulitnya.

Ditemui di rumah bapak angkatnya, di Jalan Nginden 3/4 Surabaya, Senin (27/6/2011), Tohari mengaku kondisinya itu mulai dialaminya sekitar 2006.

Yang pertama kali menyadarinya justru seorang tukang cukur di kampung halamannya di Ngadibuyut, Kecamatan Rejoso, Nganjuk. “Tukang potong rambut ini sempat memegang tengkuk saya dan berkata ’Lho, kok tengkuknya keras’. Meski heran, saya masih menganggapnya itu hal biasa. Lagi pula, kondisi saya saat itu baik-baik saja,” kata lelaki 34 tahun itu.

Tohari mengabaikannya sampai dia menyadari bagian yang mengeras itu telah menjalar ke seluruh tubuh. Secara perlahan, kulit muka, bahu, perut, hingga pahanya mulai mengeras. Bahkan, kelopak matanya pun ikut mengeras. Hanya betisnya yang normal alias belum mengeras.

Tak hanya itu, efek dari kulit keras membuat alat vitalnya mengecil. Kalau diibaratkan. ”Mungkin ini karena sebagian kulit ikut tertarik. Meski agak menciut, namun fungsi alat vital masih normal,” katanya.

Kendati sebagian besar kulitnya membaja, ia tak pernah merasakan sakit, demam, atau keluhan lain. ”Tiba-tiba saya kena kelainan seperti ini,” tegas bapak satu anak ini.

Tohari sudah menemui dokter spesialis kulit dan kelamin di RSUD Nganjuk. Namun, ia tidak puas dengan jawaban empat dokter kulit yang sudah ditemuinya.

Mereka "hanya" memberi resep obat herbal dan 10 botol air mineral. ”Sudah saya minum, tetapi kelainan saya tetap saja, tidak membaik,” katanya.

Merasa patah arang, dia dan keluarga angkatnya lalu menemui belasan ahli pengobatan alternatif dan beberapa alim ulama yang kesohor ilmu spiritualnya.

Hasilnya sama saja, bahkan kini ia merasa organ dalamnya mulai terpengaruh. Kelopak matanya susah membuka secara sempurna dan tenggorokannya ikut menyempit. Rahangnya kini semakin kaku dan ia mengalami sulit melafalkan huruf R.

"Saya juga susah ketika mau menelan makanan yang agak besar karena tenggorokan agak menyempit. Bahkan, saya sempat mau mati kehabisan napas karena ada potongan bakso yang nyangkut di tenggorokan. Tapi, untung Tuhan masih memberi kesempatan hidup, sehingga potongan bakso bisa turun ke perut,” tambahnya.

Iswahyudi (48), ayah angkat Tohari, mengaku tidak tahu lagi harus membawa pria itu ke mana. ”Karena keanehan kulit Tohari, ada seorang dokter spesialis yang nyeletuk ’eh, kamu kok kayak Werkudara’,” katanya.

Dijelaskan Iswahyudi, meski kulit Tohari keras, bukan berarti dia kebal senjata. Kulit Tohari tetap bisa terluka dan berdarah bila disayat pisau. Begitu juga ketika digigit nyamuk, Tohari juga bisa merasa gatal. ”Ya sama seperti yang lain,” tegasnya.

Iswahyudi menuturkan, anak angkatnya taat beragama. Ia tak pernah melu*pakan salat lima waktu, tidak pernah menenggak minuman keras atau main perempuan.

Karena itu, ia sangat yakin Tohari tak akan memakai jimat atau sejenisnya sehingga menjadi seperti ini. Kondisi Tohari sempat membuat gentar beberapa petugas satpam. Mereka pernah mencoba memukulnya, tetapi badannya terasa keras.

Yang membuatnya prihatin, Tohari ditolak keluarganya. Istrinya yang kini tinggal di Nganjuk minta cerai. Itulah yang mendorong Iswahyudi mau menampung Tohari yang kini menjadi sopir di perusahaan travel di rumahnya.

”Kami berharap ada yang bisa membantu menyembuhkan kelainannya ini,” pungkasnya.




sumber :http://news.okezone.com/read/2011/06/28/340/473676/kulit-sekeras-kayu-tohari-menderita-skleroderma